- RINDU -
Al-Qur’an secara tegas menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan
merasakan kematian. Pernyataan ini terdapat dalam surat Ali Imran ayat
185 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ -١٨٥-
Artinya: "Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahala kalian pada hari kiamat. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ia benar-benar telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
Hampir setahun yang lalu, Almarhum Nur'Ali (Ayah) yang selama ini menjadi penyemangat dalam setiap kegiatan sudah benar benar meninggalkan dunia yg fana ini.. Alloh lebih sayang beliau, sehingga diambil nyawanya di bulan yang baik, penuh Rahmat & Maghfiroh Alloh SWT.
Gak pernah kebayang dan menyangka, cepat sekali Alloh ambil dia .. Dan, alhamdulillah semoga Almarhum meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, apalagi di bulan Romadhon yang penuh berkah, semoga juga Alloh jadikan kuburnya -Raudhah min Riyadhil Jannah (sepotong taman dari taman-taman syurga.)-
Jum'at, 24 Juni 2017
Di tanggal ini, kebetulan keponakan pertama, cucu laki-laki pertama baba juga lahir ke dunia tepatnya tahun 1998 silam, tidak lama setelahnya 3 bulan berselang di tgl 23 September 1998 disusullah kepergian Alm. Sarah (ibunda saya, dan nenek dari keponakan-keponakan saya tercinta)
Shubuh di Jumat ini baba minta diurut (refleksi) kaki kanannya, karena dia merasa pegal dan nyeri entah karena lelah beraktivitas ataupun memang sudah pertanda ajal nya yang sudah tidak lama lagi. Almarhum hanya meminta tolong dikerik sedikit, dan dengan payah serta mengantuk yang luar biasa, sebagai anak apalagi permintaan orang tua, lantas saya turuti kemauannya.
Di pagi harinya, entah rasa ingin sekali membereskan rumah (ruangan bekas warnet terutama) ingin dibereskan bekas meja-mejanya, dibersihkan kipas anginnya serta diperindah dengan adanya sofa yang sebelumnya ditaruh di ruang tamu rumah. Dari setelah sholat shubuh sampai dengan hampir jam 7 pagi, akhirnya bebenah selesai dan datanglah baba dengan wajah lelahnya habis memotong rumput di beberapa makam yang dititipkan oleh keluarga ahli waris untuk dirawat dan dibersihkan apalagi menjelang lebaran.
Tak bisa lama berbincang dengan baba, karena kewajiban bekerja yang masih ada, baba-pun mengingatkan untuk segera bersihkan diri dan berangkat bekerja. Sayapun lupa apa yang terjadi selama di kantor di Jumat yang mulia itu, yang saya ingat saat jam makan siang karena sedang berpuasa Ramadhan, saya menghabiskan waktu istirahat untuk bertadarus dan mendengarkan siraman rohani yang ceramahnya dari Ust. Yusuf Mansur yang temanya Detik-Detik Menjelang Ajal .. Yang rekaman MP3 ceramah ini saya dapat dari Pak Afdhol. Lambat laun, tibalah sore hari dan hari itu saya dan teman teman kantor Ultra Salur lantai 2 (Mba Yanti, Rahman, Heri, Mba Tika & Andi) berbuka puasa bersama di kantor, karena hari itu kami baru saja mendapat dana THR. Tapi setelah sholat maghrib, sayapun beranjak pulang dan ada kalimat yang saya masih ingat; "Mau ngabisin duit THR". Sepulangnya dari kantor, saya tidak bisa langsung masuk rumah dikarenakan tidak adanya lapak untuk parkir si Myla (mobil AYLA keluarga) dan terpaksa menunggu setelah pulang tarawih untuk bisa parkir di depan rumah. Sesampainya dirumah istirahat sebentar dan kemudian mempersiapkan segala sesuatunya sebelum lanjut acara 'Sahur on The Road' bersama PondokLabu Squad' yang diketuai oleh temen SMK saya bang Q-Tink. Sebelum pergi, sempat menengok ke jendela warnet, ada baba yang tertidur pulas dan merasakan kakinya yang sakit sehingga harus dinaikkan ke sofa (andai saya tahu betapa sakitnya kaki brahma baba saat itu mungkin sayapun tidak ada niat kemana-mana, tapi yasudahlah ini sudah jalan Alloh Ta'ala). Dan sayapun sempat berpamitan dengan teman sebaya yang masih asyik bermain karambol di warung sebelah, ada Faisal, Puji & Roni.
Sabtu, 25 Juni 2017
Alhamdulillah SOTR-pun berjalan lancar, dengan diakhiri santunan anak yatim piatu di yayasan daerah Pondok Labu dan sholat Shubuh berjama'ah. Setelah terang, saya langsung pulang ke rumah dan sampai di rumah -Cici- bilang kalau baba mencari anak bontotnya dan menanyakan saya sahur dengan siapa karena malamnya saya hanya sempat izin ke cici karena tidak ingin membangunkan pulasnya tidur baba. Tidurlah saya untuk menghilangkan rasa mengantuk yang luar biasa.
Paginya, sekitar pukul 09.00 pagi, cici kembali membangunkan untuk mengantar baba ke tempat urut/pijat H.Gapong namanya di daerah Pondok Labu juga. Sayapun tak tega melihat keadaan baba dengan suhu badan yang panas tinggi dan kondisi kaki sebelah kanan sudah membengkak. Sesampainya di tempat urut, babapun masih harus mengantri untuk mendapat giliran diobati. Sekitar dua jam menunggu, baba akhirnya keluar dari tempat urut dan saya bergegas menuju myla untuk menyambut baba. Tak lupa membeli ikan hias dari penjual ikan di halaman tempat urut untuk diberi ke ponakan di rumah. Baba masuk mobil dengan dibantu papah oleh Cici dan Ka Tommy... Di mobilpun baba bilang; "Tehnya boleh diminum, pih (panggilan sayang kepada saya)?". Kebetulan saya selalu menyediakan minum di bawah jok supir sebagai cadangan haus di jalan.
Sampai di rumah, kami istirahat kembali dan baba sudah bisa tidur setelah diolesi minyak urut di kakinya (yang konon kata orangtua penyakit bengkak di salah satu bagian tubuh disebutnya 'brahma'). Setelah dzuhur, saya menjemput cici yang kebetulan habis belanja makanan dan minuman untuk persiapan bawaan lebaran. Babapun dirumah sendirian. Setelah kembali di rumah, sekitar jam 2 siang ada yang aneh terlihat dari wajah baba, bibirnya yang sudah mengindikasikan stroke mulai menyerangnya dan bicaranya pun sudah pelo' (seperti penderita stroke) dan demam tinggi yang membuat kami anak-anaknya tergerak untuk selalu bersama baba. Alloh pun menolong kami yang di rumah, dengan mendatangkan kakak ipar saya, ka Januar yang memang hari itu tidak sengaja main kerumah. Melihat kondisi baba yang sudah sedemikian rupa, dengan cepat tanggapnya 'Om Jojon' segera ambil tindakan mencari apotek terdekat yang ada apotekernya untuk bisa mengambil darah baba tanpa mengharuskan baba yang datang ke apoteknya. Sepanjang cipete selatan, tidak ada apoteker yang standby di apotek yang bisa dipanggil kerumah untuk ambil darah dan mungkin karena saat itu tepat hari Minggu. Akhirnya saya, om jojon dan ponakan yang ikut serta di Mobil Kuda ke rumah cipete dan menjemput baba untuk dilarikan ke Laboratorium terdekat untuk diambil darahnya, setidaknya setelah cek darah bisa diketahui penyakit yang dideritanya apakah Kolesterol, Darah Tinggi, atau yang lain sebagainya agar segera kami carikan obatnya, minimal bisa mengobati sedikit penyakit yang diderita baba dan menghilangkan bibir pelo nya yang sudah tak mampu banyak bicara. Tetanggapun membantu membopong baba yang sudah tidak kuat berjalan untuk masuk ke mobil Kuda dan baba hanya ingin dibantu oleh cici saja. Laboratoriumpun membutuhkan waktu untuk memberi hasil terbaiknya, tak bisa dibayangkan juga jika harus ke Rumah Sakit untuk sekedar tes darah saja. Waktu yang diperlukan juga akan sangat amat lama, dari antri, administrasi, daftar tunggu, sampai tindakan ambil darahnya. Karena hasilnya masih 2 jam lagi, kamipun pulang membawa baba. Selama perjalanan pulang, di mobil baba meminta banyak minum (ini salah satu tanda akan dicabutnya nyawa, yaitu haus luar biasa) dan pembicaraan baba sudah mulai tak dipahami akal saat saya tersadar itulah tanda menuju kematiannya. Baba selalu menanyakan waktu, apakah sudah maghrib, masuk waktu berbuka dan apakah sudah isya, karena baba sudah letih rasanya dan lama menunggu ajalnya (mungkin ini yang ia rasakan). Sebelum jam 5 sore, kami sudah sampai di rumah lagi. Baba ditemani ibu sambung saya (ibu tiri) dan juga cici di rumah, Om jojon kembali menjemput kak Lala dari kerjanya, kemudian saya ke kemang untuk membeli pizza karena ada 'buka puasa' dadakan hari Sabtu itu di rumah baba. Menjelang maghrib baba ingin anak-anaknya kumpul berbuka puasa dirumah. Baba minta konci motor untuk dicabut, sayapun langsung melihat kondisi motor MX apakah masih tercantol koncinya atau tidak dan ternyata hasilnya nihil tidak ada kunci tersangkut di motor MX dan sudah digantung di lemari biasa. Sayapun membatalkan acara bukapuasa dengan teman sebaya di rumah. Setelah jam berbuka, saya batalkan puasa dan sholat maghrib setelah itu bertadarus sebentar seperti hari hari biasa yang saya lakukan selama Ramadhan.
"Ikan yang tadi beli di H.Gapong mati pay!", sahut kak tommy dari depan jendela warnet tidak lama setelah saya selesai mengaji (Dan lagi lagi ini menjadi salah satu pertanda). Sayapun tidak ikut tarawih berjamaah malam itu, karena rasa hati berat sekali meninggalkan baba. Setelah jam pulang tarawih, kakak-kakak sudah mulai main kerumah, ada Ka Lala & Om Jojon dengan Dafi-nya, ada juga Kak Imel. Kamipun berkumpul di rumah baba, ada ibu, cici, ka imel, ka lala, om jojon, ka tommy, zahra, asya dan dafi (Kayla ada di rumah neneknya).
Dan kamipun masih berusaha memanggil dokter ataupun perawat yang bisa dipanggil kerumah, tapi tak kunjung berhasil sampai keluragapun memutuskan untuk membawa baba ke Rumah Sakit terdekat yang ada IGD nya. RS Setia Mitra pun menjadi pilihan kami. Baba gak mau pipis, minumpun sudah susah tertelan, mungkin saking tegangnya ke rumah sakit yang dia saja jarang banget berobat kalau sakit sedikit yang ada hanya minum obat warung saja atau Puyer 16. Selama menemani baba di Ruang IGD, Banyak obrolan dengan baba saat itu dan yang sampai saat ini gak akan pernah lupa :
Baba : "Baba gak mau dirawat, nanti baba sendirian, ntar gak ada yang temenin baba"
Saya : "Nanti pasti dijagain ba, upi kerja dulu nanti pulangnya temenin baba"
Baba : "Baba udah ga sakit kok, baba mau 'pulang' aja"
Kira-kira pukul 22.22 WIB selesai Pertolongan Pertama di IGD RS Setia Mitra untuk baba. Dan begini lah foto yang saya ambil dari infus baba IGD RS Setia Mitra 25/6/2017 Pkl 22.28 WIB
Kamipun tidak munafik, memikirkan soal pembiayaan RS nya, ada dua opsional, memakai BPJS- tapi hanya bisa dilayani di hari kerja yaitu Senin (lusa dari saat baba di bawa ke RS) karena proses administrasi harus mendapat rujukan terlebih dahulu dari puskesmas terdekat atau pusat layanan kesehatan yang terdaftar di BPJS baba, atau harus menggunakan mandiri yang biaya seluruhnya ditanggung tanpa ada bantuan dari asuransi, BPJS maupun suntikan dana bantuan lainnya. Sempat berdebat dengan cici karena cici maunya BPJS karena ada rasa khawatir biaya akan sangat mahal jika tidak pakai BPJS, namun akhirnya pilihan mandiripun disetujui yang penting baba ditindak terlebih dahulu. Kamipun sepakat membayar deposit dulu, karena saya habis dapat THR, dengan tidak ada keraguan seluruh THR saya sebesar 4juta saya depositkan di RS Setia Mitra dan babapun langsung mendapat kamar di Ruang MELATI di pojokan pula..
Minggu, 26 Juni 2017
Masuk ruangan sekitar pukul setengah satu pagi, di Ruang Melati baba akhirnya masuk kamar. Dibersihkannya badan baba oleh perawat, yang ternyata baba sedikit BAB dan lagi lagi masih belum saya sadari ini pertanda kepergiannya untuk selamanya. Karena pipisnya sudah tidak mau dibantu oleh keluarga maupun perawat disana, kamipun memakaikan diapers dewasa. agar baba nyenyak tidur dengan keadaan bebas ingin buang hajat pipis maupun kotoran. Setelah baba bersih, dan kakinyapun sudah dibaluri oleh cairan "NaCL" atau "Garam" untuk mengempeskan lebam kakinya, yang menurut dokter adalah peradangan sel darah, sehingga menjadi salah satu faktor penyebab stroke.
Cici dan ponakan kembali pulang, om Jojon & kak Lala membeli persediaan selama kami menjaga baba, dan Ka Imel mendapat giliran pertama menemani baba. Sayapun tidur sebentar untuk kiranya menghilangkan kantuk dari hari Sabtu dini hari setelah SOTR sampai Minggu pagi yang harus menemani baba. Waktu kemudian menunjukkan pukul 2 pagi, kak Imel gantian tertidur dan saya yang menemani baba, sampai akhirnya jam 3 kak Imel harus pulang untuk menyiapkan sahur bersama keluarganya, dan saya mendapat kesempatan menjaga baba tercinta. Ya... hanya kami berdua, kami banyak berbincang meski baba sudah tidak mampu banyak berkata dan minumpun harus dipaksa, perawat bilang baba dalam keadaan gelisah. Tidak jarang pula meminta saya untuk melepaskan infusnya, dan sudah tidak betah di kamar rumah sakit yang suhunya nanti merasa panas kadang juga merasa dingin. Sayapun tidak tahu harus apa, rasanya hati seperti dirorod (baca: diiris-iris dan perih dalam bahasa betawi) melihat keadaan orang tersayang terkapar berbaring tanpa daya. Dan di masa seperti ini, saya hanya teringat satu teman lelaki saya yang entah kenapa hanya dia yang ada di pikiran saya saat itu, entah karena kami baru beberapa jam lalu berjumpa atau memang ada rahasia Alloh disini.
Waktupun terus berjalan, Kak Lala dan om Jojon membawakan makan sahur, tapi saya tidak ada rasa lapar dan haus yang ada hanya rasa sedih saat melihat baba harus terkapar di ranjang rumah sakit dan sudah tidak bisa tidur nyenyak. Sampai hanya seteguk air untuk sahur pagi itu. Setelah masuk waktu shubuh, saya kembali bergantian jaga dengan Kak Lala. Saya ke mushola RS, dan kembali ke kamar baba.
Saat kak Lala tertidur, baba bangun dari berbaringnya dan dia bilang "Mau Pulang ke Warung, Makan!" dan ini saya artikan yang dimaksud baba adalah saat shubuh tiba, bangun cari rejeki di Bumi Alloh, gak boleh malas, rajin bekerja untuk cari bekal makan supaya bisa ibadah". Dan matahari pagipun mulai terlihat, yang dipanggil baba adalah "JANUAR". Om Jojon kemudian datangi kamar baba dan memposisikan baba ke posisi berbaring yang lebih baik dari sebelumnya, dinaikkan badan baba dan kepalanya ditinggikan setengah badan agar tidak sepenuhnya berbaring. kamipun mengangkat baba dengan kondisi ranjangnya sudah penuh basah keringat baba (dan ini salah satu tanda kematian lagi). Gantian lah om Jojon yang menjaga baba, saya tidak kuat melihat baba dengan kondisi seperti itu. Dan saat-saat seperti ini, tidak ada tempat mengadu selain Alloh SWT, saya minta, saya doa, saya harap agar Alloh selalu panjangkan umur baba, dan kalaupun baba memang harus dipanggil Alloh dan diambil nyawanya, itu akan lebih baik dengan tidak melihat penderitaan sakit kakinya dan gelisah yang dia rasa. Menangis sepuasnya mengadu kepada yang punya seluruh dunia dan isinya, dan saat kembali ke ruangan baba sudah dalam posisi tertidur. Sayapun keluar membersihkan Myla dan membaca surat Yaasiin yang banyak sekali fadhilahnya, terutama saat perasaan sedih, takut, khawatir akan ditinggalkan orang tercinta, Bang Dauspun datang sekitar pukul 8 pagi, bergantian dengan Om Jojon & Kak Lala yang harus berdiskusi lagi dengan kak Imel & Bang Sule untuk kemungkinan terburuk butuhnya dana tambahan untuk kebutuhan Ruang ICU baba. Dan jam 9 pagi cici datang bersama asya membawakan sarapan baba karena dia ingin makan tempe. Setelah rapi membersihkan myla, saya kembali ke ruangan rawat baba dan betapa kagetnya ketika kondisi baba sudah sangat amat menurun drastis dari mulai nafasnya yang sudah terengah-engah, matanya yang sudah terpejam dan segala kesakitan terasa di tubuh saya seakan saya bisa merasa apa yang baba rasakan. Dokterpun berbicara dengan saya dan abang Daus, untuk menjelaskan apa adanya kemungkinan terbaiknya adalah dirawat ICU setidaknya untuk menjaga -kestabilan organ tubuhnya dengan alat bantu sampai bisa dilarikan ke rumah sakit rujukan untuk perawatan intensif- dan tentunya dengan biaya yang tidak murah dan belum tentu bisa sembuh, kalaupun sembuh akan stroke ataupun kemungkinan terburuknya yaitu meninggal dunia.
Tanpa pikir panjang, langsung saya tambahkan deposit lagi 10 juta sebagai jaminan bahwa baba bisa mendapat perawatan dan ICU dapat disegerakan, pukul 11.30 selesai administrasi sementara untuk perpindahan kamar baba.
Detik-Detik Alloh kirim malaikat untuk ambil nyawa baba ...
Ya, pukul 11.50 saat perawat-perawat sudah merapihkan ranjang baba untuk dapat dipindahkan ke ruang ICU, saya mulai melihat keanehan yaitu tidak ada gerak gerik nafas terlihat di perut baba, suster pun saling melihat satu sama lain dari perawat satu ke yang lainnya yang saat itu ada 3 (tiga) orang perawat. Sayapun langsung membacakan tahlil dan ayat kursi, perawat menanyakan jam berapa saat itu dan kemudian memanggil dokter. Dan benar saja, firasat saya benar, bahwa Alloh sudah memangil baba tepatnya pukul 11.53 WIB hari Minggu, tanggal 26 JUNI 2017 di Ruang Melati Kamar Nomor 3 (seingat saya). Dokterpun dipanggil perawat untuk meyakinkan perginya baba, dan menguatkan saya dan keluarga atas sepeninggalnya.
Dengan langkah berat, saya kabarkan berita duka ini kepada kaka saya Lia, Bang Daus, Cici Ella yang saat itu kami ada disana. Abang daus menemani cici mempersiapkan antar baba dengan ambulance, saya dan Lia merapihkan ruangan rawat baba, barang-barang bawaan serta berpamitan dengan tetangga di kamar sebelah yang juga dirawat, setelah itu berpamitan dengan perawat dan membereskan pembayaran administrasi dan lainnya, teman sebaya dirumah pun bantu persiapkan rumah duka untuk menyambut baba,,, dan saya tetap di rumah sakit. Saya sempatkan sholat Dzuhur di musholla RS sambil menunggu selesai administrasi, dan kemudian Duduk di ruang tunggu RS sambil mengabari semua sanak saudara, kerabat, tetangga yang ada di kontak ponsel saya dan saya ingat sekali di depan Ruang Radiologi ditemani Roni, stasiun TV saat itu menayangkan program FTV Ramadhan dan kebetulan lagu latar belakangnya adalah karya OPICK (OPICK - Bila Waktu Tlah Berahir) sampai semuanya terselesaikan dan pulang dengan keadaan hati dan fikiran masih percaya tidak percaya.. Teman teman berdatangan untuk melayat dan berbelasungkawa, karena baba meninggal di siang hari, kami keluarga sepakat menyegerakan memandikan, mengkafani, menyolatkan serta menguburnya sebelum hari gelap, Dan satu keikhlasan kami adalah Alloh panggil baba kembali semoga dalam khusnul khotimah tepat di hari ke-20 bulan Romadhon dan semoga Alloh memaafkan kesalahan serta khilafnya, mengampuni dosa-dosanya, menerima segala amal baiknya, ditempatkan di tempat terindah yaitu Surga-Nya Alloh SWT.
Dan itulah sepenggal cerita kepergian baba yang sampai saat ini selalu teringat satu persatu langkah kaki saya menemani baba sampai Alloh benar benar meyakinkan saya kalau baba sudah gak ada.... Dan sekarang hanya doa yang bisa saya kirim untuk Alm. Sarah (Ibu) dan Alm. Nurhali (Ayah), semoga doa kami senantiasa Alloh terima, Alloh maafkan keduanya, dan kami anak-anaknya tidak luput dari mendoakan mereka...
Yaa Alloh terima kasih telah memberikan mereka sebagai orangtua kami, yang mengajarkan kami hidup ini dan mengenalkan kami kepada-Mu ...
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ
وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
“Alloohummaghfirlii
waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
Artinya :
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku,
sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”.
Terima Kasih untuk semua tetangga, saudara, teman yang tidak bisa disebut satu persatu, sudah menghibur saat saya dan keluarga ditinggalkan baba. Terima kasih yang sedalam dalamnya atas kehadiran saat baba tidak ada, bantuan baik moril maupun materiil .. Alloh selalu membalas kebaikan kalian, Aamiin Allohumma Aamiin.
16 Ramadhan 1438 H (Minggu, 11 Juni 2017 00.51 WIB)

No comments:
Post a Comment