Life is a Choice ....
Pertama memutuskan untuk 'resign' dari salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang interior adalah suatu 'ketidaksengajaan'. Ketidaknyamanan berada dalam suatu keadaan yang penuh dengan kecemburuan sosial, ketidakharmonisan dan segala hal yang sudah tidak bisa dipertahankan karena hanya akan membawa diri sendiri dalam kemunafikan. Harus mengajukan dari 3 (tiga) bulan sebelumnya untuk dapat berpindah ke tempat baru dan 'moveon' dari kantor lama, yaa begitulah konsekuensi bekerja pada perusahaan swasta. Dengan kerja maksimal dan hanya mendapat timbal balik yang minimal (bukan hukum ekonomi banget untuk individu, kecuali perusahaan). Memulai kerja pada 2 Desember 2010 dan harus mengakhiri pada 30 Januari 2014 bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal semua karakter dari yang temprament sampai yang kalem. Sopir, Kenek, OB/OG, staff, manager, boss - boss dan semua yang mengelilingi perusahaan tersebut yang banyak memberi pelajaran hidup khususnya 'sabar' dalam menghadapi tuntutan tagihan dari supplier dan para penagih.
Hussst,,, sebelum lanjut next paragraph, tetep promo in boss saya dulu yaa yang udah sponsorin warnet
Solvers (Sonettwo Lovers) .. yups, sambil menunggu jam tayang 'ini talkshow episode Ridho_Rhoma, yook diklik playlist berikut)
Ridho Rhoma on SoundCloud .....
Itulah sekilas pekerjaan yang selama kurang lebih 3 tahun saya jalani sambil menimba ilmu di Universitas Surapati, Jakarta. Beruntung setelah resign dari perusahaan tersebut, Surat Keterangan Lulus (SKL) sebagai bukti bahwa saya telah menyelesaikan program sarjana Strata Satu (S1) dengan konsentrasi Ekonomi telah didapat. Sayapun mulai mencari pekerjaan lagi dan lagi... Saya tidak dapat membohongi perusahaan lama, tidak bisa mengambil wawancara disaat jam kerja berlangsung. Betapa zolimnya saya, mendustai perusahaan sendiri. Sekalinya saya izin pada jam istirahat makan siang dan wawancara pada salah satu perusahaan yang membuka lowongan untuk bagian keuangan kontraktor. Setelah keluar dari kantor interior, Februari saya masuk sebagai Auditor dan tidak bertahan lama karena terlalu banyak kebohongan yang dilaporkan pada kertas pembukuan........ DI februari ini, saya tidak serta merta keluar secara pekerjaan. Sayapun harus meremind pengganti saya untuk membayar tagihan rutin utama setiap bulannya. Saya ingin kerja yang halal, berkah, tidak ada kebohongan lagi. Dan yupz,Alloh itu maha segalanya. Doa saya terdengar dengan cepatnya. Suatu sabtu saat menunggu antrian teller Bank Leasing motor, saya bertemu dengan Pak Sukman yang menawarkan pekerjaan untuk di kantornya.
Seminggu setelahnya, saya baru yakin untuk keluar sebagai auditor dan melamar kembali menjadi seorang Cost Controller. Minggu pertama diinterview oleh Manager Purchasingnya, kemudian minggu kedua oleh General Manager, Mingggu ketiga langsung oleh Direkturnya. Minggu keempat adalah penentuan dan tandatangan kontrak dengan gaji yang sangat menggiurkan, jauh sekali dan hampir 2x lipat dari kantor terdahulu. Pertengahan maret saya mulai bekerja pada kantor tersebut, tidak mudah beradaptasi pada suatu perusahaan yang bergerak di bidang Food&Beverages (F&B) yang setiap harinya selalu ada permintaan bahan baku utama sebagai bahan makanan yang dijual.
Hari pertama, semangatnya bekerja dengan teman-teman baru dari Kitchen, Bar & Office. Pertama kerja dengan jabatan yang ada, memang tidak mudah. Tetaplah harus merakyat untuk mengetahui alur kerja dalam perusahaan tersebut dan tidak bisa diketahui jika hanya mendengar dari satu pihak kecuali ingin terjun langsung ke pokok permasalahannya yaitu 'Manajemen Logistik'. Secara pekerjaan tidak ada kendala, namun di hari kedua baru ada halangan yang menunjukkan satu dari beberapa item yang dijual adalah barang yang dalam Islam itu dilarang.
"Arak", saya memang bukan penjual arak itu sebut saja Vodka, Currant, Absolute Wine, dll. Namun, secara tidak langsung saya termasuk dalam perusahaan yang 'menjual' arak (miras) tersebut. Masa iya saya mendapat gaji dari hasil penjualan perusahaan tsb yang menjual arak, nanti bila gaji saya tsb untuk menafkahi keluarga, berarti saya telah mengalirkan nafkah yang tidak halal untuk keluarga saya. Setelah berdiskusi dengan keluarga atas pekerjaan saya, mereka pertama tidak setuju karena niat kita hanyalah bekerja dan tidak ada keterkaitan dengan penjualan miras tsb karena saya bukan dibagian Bar melainkan
Back-Office Restoran tersebut. Setelah mengkaji hadis-hadist dari berbagai sumber dan salah satunya
Saling Mengingatkan ...
Yups,, dari Resto tersebut saya belajar banyak hal. Kerja di kota itu yang penuh dengan beberapa orang bermuka dua, munafik, memang sudah biasa. Tidak ada keanehan jika 'yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin'. Gaji besar tidak membawa kenyamanan. Usaha adalah jalan keluarnya. Sekarang pun untuk makan di luar, harus banyak mempertimbangkan dengan matang. Tidak semua resto memiliki izin HALAL MUI, yang ada adalah lisensi menjual barang-barang tak halal untuk kaum awam seperti saya. Lebih aman makan dan nongkrong di pecel ayam pinggir jalan. Lebih Murah, Lebih Kenyang.
April ini saat nya buka lembaran baru, jauhi yang tidak halal. Cari berkah Alloh supaya hidup tenang. Mungkin rekomendasi mendaftar ASN itu hal yang tepat untuk perempuan. Bismillahirrohmaanirrohiim, semoga berkah yang kulakukan sekarang. Do What You Wanna Do ...
April 2nd, 2014
20.41